Kisah Ratnasari, Anak Pemulung yang Sekolah sampai Perguruan Tinggi…

266 views

Kisah Ratnasari, Anak Pemulung yg Sekolah hingga Perguruan Tinggi…

Kisah Ratnasari, Anak Pemulung yg Sekolah hingga Perguruan Tinggi

Gurudikmen.com – Ratnasari, galat satu pengajar muda di Yayasan Media Amal Islami. Ratna adalah anak pemulang yg mempunyai tekad bundar sekolah hingga Perguruan Tinggi.

Di bangunan 3 lantai itu, Ratna hayati & mengabdi. Menjadi guru muda buat anak-anak yatim dan duafa dari keluarga pemulung.

Lapak-lapak pemulung berada dekat menggunakan yayasan itu. Dari lantai tiga, Ratna mampu melihat jelas kehidupan mereka. �Dari situ juga aku berasal,� ujarnya.

Ratna mengajar pada MAI semenjak usia 14. Sepanjang bepergian hidupnya, sudah banyak pengalaman yang beliau dapatkan.

�Dari mengajar, terdapat pelajaran hidup yg bisa dipetik. Apalagi, murid aku bukanlah orang-orang biasa,� ujarnya.

Anak didik Ratna kebanyakan asal dari keluarga pemulung. Gampang-susah mengajar mereka sudah sebagai bagian dari hayati Ratna.

Anak-anak pemulung, kata Ratna, telah mengenal cara mencari uang sehingga sulit diajak belajar.

Sebab, mereka nir lagi bersekolah buat bisa bekerja kelak lantaran sudah sanggup membuat uang sendiri.

Ratna sempat kelimpungan. Berbagai bisnis dia dan yayasan lakukan, termasuk mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak pemulung yg bersekolah pada situ.

�Jadi tiap bulannya mereka dapat santunan uang,� ujar Ratna.

Belum lagi, soal karakter. Lantaran terbiasa hidup pada jalan, anak didiknya tak jarang berbicara kasar. Ratna bercerita saat pertama kali mengajar dan bertemu mereka. Ia harus punya kesabaran ekstra.

�Selain berbicara kasar, pakaian yang dikenakan semaunya saja. Kadang memang nir ada. Peci miring, ingusan, dan bau sampah lantaran habis mulung. Pelan-pelan kami didik,� ujar dia.

Untuk adaptasi, anak didiknya itu butuh ketika enam bulan buat mau disiplin tiba menggunakan sandang rapi.

Kegiatan belajar-mengajar semakin sulit saat poly orangtua menurut anak didiknya yg protes.

Mereka berpendapat, sekolah hanya menciptakan waktu anak-anaknya mencari uang terganggu.

�Padahal jikalau dipikir, belajar dari yayasan ini saja kurang. Harapan aku , mereka masih punya aktivitas belajar pada luar menurut kegiatan (belajar) pada sini. Boro-boro tercapai, orangtuanya malah protes,� kisahnya.

Pernah, Ratna nekat tiba ke lapak-lapak pemulung. Menemui orangtua anak didiknya satu per satu. Ia mencoba menularkan motivasi supaya mereka sanggup mendukung anaknya belajar.

�Saya lihat nir terdapat dorongan belajar menurut dalam famili, padahal anak-anak masih butuh itu,� pungkasnya.

Ratna sanggup masuk lebih mudah ke komunitas pemulung lantaran mereka memahami, Ratna dari menurut famili yg sama. Hanya saja, bukan berarti nir ada penolakan.

�Alasannya bukan cuma satu, melainkan seribu. Mereka menyatakan nir bisa mendukung aktivitas anak belajar lantaran mereka butuh uang. Kalaupun ingin, mereka pula nir mampu mengajarkan di rumah,� tuturnya.

Sering kali Ratna menerima kalimat �Ibunya saja nir sekolah, bagaimana mampu mengajarkan anaknya. Sudahlah Rat, mereka cari uang saja,� tiru Ratna.

Pelan-pelan, Ratna memotivasi mereka. Beliau berakibat dirinya sendiri contoh contoh. Harapannya, keluarga pemulung itu bisa terinspirasi.

�Jangan hingga kelas lima SD bukannya pada sekolahkan malah disuruh nikah & berumah tangga. Mereka masih punya harapan. Saya mau menularkan semangat belajar dalam mereka,� istilah Ratna.

Kilas pulang

Ratna adalah anak ketiga berdasarkan Pasangan Alm. Sukar & Titin. Semasa hidup, ayahnya merupakan seorang pemulung & ibunya merupakan tukang urut. Keluarga Ratna hayati serba kekurangan.

Sebelum tinggal pada Jakarta, mereka menetap pada Karawang, tempat ayahnya memulai pekerjaan sebagai pengumpul barang bekas dan sampah plastik bungkus.

Waktu masih di Karawang, tempat tinggal loka keluarganya tinggal adalah satu-satunya yang belum dipasangi listrik. �Bukan lantaran berada pada pedalaman, tetapi memang nir terdapat porto,� ungkapnya.

Dari situ Ratna, beserta saudara tertua & adiknya hidup prihatin. Masa-masa sekolah dasar (SD) dihadapinya menggunakan penuh keterbatasan.

Hingga sampailah ketika ayahnya menetapkan buat tinggal pada lapak pemulung Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Hidup tidak banyak berubah, kata Ratna. Tetapi, pendapatan yg dihasilkan ayahnya bisa dipakai buat menyekolahkan saudara tertua dan adiknya, kecuali dia. Setelah pindah ke Jakarta, Ratna diasuh dan tinggal bersama orang lain.

�Orangtua tidak mau saya tinggal pada lapak pemulung, risi menggunakan pergaulannya,� ujarnya.

Jadilah Ratna memiliki orangtua angkat & tinggal d Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia disekolahkan menggunakan model homeschooling & menerima penghidupan layak.

Berkenalan menggunakan MAI

Memiliki orangtua angkat, tak membuat Ratna lupa akan keluarganya. Hampir tiap minggu, dia mendatangi lapak pemulung di mana keluarganya tinggal. Kebetulan, beliau menentukan tempat mengaji dekat dengan lokasi itu, yayasan MAI.

�Di sana aku mengaji & ikut mengajar anak-anak yang tidak mampu bersekolah pada tempat formal,� ungkapnya.

Begitu lah masa remajanya yg dihabiskan menggunakan belajar & mengajar. Hingga ia menerima keterangan bahwa ayahnya sakit parah.

Ratna yg baru saja menuntaskan Sekolah Menengah Atas itu minta izin dalam orangtua angkat buat tinggal kembali bersama orangtua kandungnya. Ia ingin merawat oleh ayah.

Selama ayahnya sakit, keluarga Ratna tidak lagi tinggal pada lapak pemulung. Mereka menyewa kontrakan kecil dekat sana.

Baru punya niat kerja, anak menurut orangtua angkat Ratna tiba menawarkan diri buat membiayai dia kuliah.

�Galau, wajib cari uang atau kuliah dulu. Keluarga menyarankan kuliah, namun lihat ayah sakit, saya mau kerja,� ungkapnya.

Jadilah Ratna mencoba mencari penghasilan. Ia bekerja menjadi admin perkantoran. Tetapi, pekerjaan yang terus-menerus membuatnya cepat bosan.

Baru 2 bulan, Ratna berubah haluan. Ia ingin kuliah. Pikirnya, dengan pendidikan yg lebih tinggi, penghasilannya sanggup lebih tinggi lagi nanti.

Kemudian, dia ambil tawaran kuliah. Ratna merogoh gelar diploma pada sebuah kampus swasta di Jakarta.

Hingga wisuda datang, ayahnya kembali jatuh sakit. Tak lama sesudah itu, ayahnya dipanggil Yang Maha Kuasa.

Saat itu, tekadnya bekerja makin kuat mengingat saudara termuda bungsunya masih sekolah & membutuhkan poly porto.

Sayangnya, pengabdian menjadi guru belia MAI wajib ditinggalkan kalau beliau benar memilih bekerja di tempat lain.

�Kakak pertama bekerja dan menetap pada Kalimantan, yg kedua mulung juga. Saya pikir, cuma (saya) asa famili,� tambah Ratna.

Lantaran itu, Ratna mengajak ketua pimpinan MAI berbicara. Ia memohon biar buat mencari pekerjaan.

�Abu (sebutan Aslih Ridwan�ketua MAI) bilang, saya jadi pegawai pada yayasan saja & tinggal pada sana untuk permanen mengajar,� katanya.

Beberapa pertimbangan dia pikirkan. Dalam lubuk hatinya, beliau menentukan menjadi guru. Apalagi, tiba tawaran buat melanjutkan kuliah sarjana. Yayasan ingin membiayai penuh.

Tawaran itu lalu dia ambil. Sebelum mengambil kelas kuliah, yayasan bahkan membiayainya kursus Bahasa Inggris di Kediri selama enam bulan buat mengasah kemampuan Ratna.

�Jadi kini pada sini (yayasan), aku mengajar umum, baca Al Quran, & Bahasa Inggris. Untuk tambahan, aku pula buat kelas les. Semuanya dilakukan pada hari biasa. Akhir pekan aku gunakan buat kuliah,� tuturnya.

Mengabdi, begitu Ratna menyebut apa yg tengah ia lakukan kini . Sambil terus berproses menggapai impian, ia ingin bermanfaat bagi poly orang.

Dari output jerih payahnya, saat ini Ratna telah sanggup membiayai adiknya sekolah, mencari nafkah buat keluarga, membeli tempat tinggal , & motor.

�Saya tanamkan bertenaga bertenaga. Sejak mini , saya hidup berdasarkan orang lain. Kini saya pula mau menghidupkan orang lain. Dengan begitu aku bisa menjadi manfaat bagi banyak orang,� ungkapnya.

 

Anak Pemulung yg Sekolah Anak Pemulung yg Sekolah hingga Perguruan Tinggi Berita Kisah Ratnasari Pendidikan

Penulis: 
    author

    Posting Terkait