Perjuangan Seorang Ibu Gendong Anaknya Pergi-Pulang Sekolah

194 views

Perjuangan Seorang Ibu Gendong Anaknya Pergi-Pulang Sekolah

Perjuangan Seorang Ibu Gendong Anaknya Pergi-Pulang Sekolah

Perjuangan Seorang Ibu Gendong Anaknya Pergi-Pulang Sekolah

gurudikmen.com – Anak penderita lumpuh layu, Dio Eka Saputra, murid kelas VI digendong ibunya Yuliati selepas jam pelajaran di Sekolah Dasar Negeri 1 Senden, Trenggalek, Jawa Timur, Selasa (dua/lima/2017).(ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Trenggalek (ANTARA News) – Seorang murid kelas IV pada SD Negeri 1 Senden, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terpaksa pergi-pergi ke sekolah dengan digendong oleh ibu karena menderita lumpuh layu dampak kerusakan saraf dan melemahnya otot kaki (guillain-barre syndrome).

Menurut penuturan pihak pengajar kelas juga orang tua siswa bernama Dio Eka Saputra (12) waktu ditemui Antara, Sabtu, sulung dua saudara itu mulai mengalami disabilitas akut semenjak setahun terakhir.

Sejak kelas IV sebenarnya telah tampak ada tanda-tanda kelainan, tetapi belum separah setahun terakhir, ungkap Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Senden Sumardjadi.

Ia mengaku sudah mendapat penjelasan berdasarkan dokter yang menangani Dio, & menerima tambahkan agar memberi perlakukan khusus pada siswa penderita lumpuh layu tersebut mengingat asa hidupnya yang diprediksi tidak panjang.

Rekomendasi itu sudah dilakukan sang pihak SDN 1 Senden dengan memberi kesempatan Dio tetap belajar melanjutkan sekolah sampai lulus, meski beberapa kegiatan misalnya ujian praktik nir bisa dia lakukan sebagaimana siswa normal.

Namun sayangnya, kata Sumardjadi, sekolahnya sejauh ini belum memfasilitasi penyediaan kursi roda buat aktivitas Dio selama di area sekolah lantaran belum adanya alokasi porto khusus, termasuk berdasarkan luar lingkup sekolah.

Selama pada sekolah Dio biasanya hanya bangku kelas, tempatnya duduk & tidak ke mana-mana hingga pergi. Dio pulang-pulang selalu dijemput dan dihantar ibunya, kadang bapaknya apabila pas pulang menurut perantauan di Kalimantan, ucapnya.

Dio sendiri ketika dikonfirmasi mengaku permanen semangat sekolah lantaran motivasinya ketika ini adalah menyelesaikan pendidikan sampai lulus kelas VI di SDN 1 Senden.

Dio berharap mampu melanjutkan pendidikan pada jenjang SMP, namun dia menyatakan ketika ini nir terlalu yakin karena membuat malu menggunakan kondisinya yg nir normal.

Sementara untuk melanjutkan belajar di SLB, Dio enggan & memilih nir melanjutkan pendidikan bila bukan sekolah generik.

Sebenarnya aku ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP jua Sekolah Menengah Atas, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terperinci memalukan. Tidak percaya diri, ucap Dio.

Menurut kabar oleh mak , Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio itu mulai diketahuinya semenjak umur empat tahun, atau waktu duduk pada bangku taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol mini ).

Saat itu, celoteh si bunda, Dio megikuti lomba lari yg diadakan sekolahnya diawasi guru. Tetapi saat akan bertanding, tiba-tiba sang guru melarangnya dengan alasan perilaku & cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.

Setelah itu guru memberitahu hal ini pada ibu, & sejak saat itu aku pribadi bawa ke dokter, tuturnya.

Hasilnya, lanjut Yuliati, apa yg dikhawatirkan gurunya tersebut terbukti, sebab secara berangsur penyakitnya semakin parah.

Hal itu dibuktikan semenjak masuk pada kelas 1 Sekolah Dasar, Dio nir bisa berjalan menggunakan lancar lagi.

Selain itu, setiap kali berjalan dirinya wajib dipapah oleh orang lain, atau dengan cara merambat di tembok (trantanan) atau benda lainnya. Sakit jika dipaksa buat jalan. Seluruh badan sakit, ucap Dio menuturkan.

Untuk itu, setiap kali pada sekolah yg dilanjutkan di tempat tinggal dirinya selalu menghabiskan ketika dengan duduk maupun berbaring.

Penyakit Dio diduga bersifat genetis, mengacu riwayat penyakit keluarganya dimana galat satu paman Dio mengalami kelumpuhan yang sama hingga akhirnya meninggal global, beberapa tahun silam.

Ternyata sehabis aku bawa, pihak RSUD dr Soedomo tidak sanggup merawatnya, makanya merujuk Dio ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya, tutur Yuliati.

Saat itulah, dari output rontgen pihak rumah sakit setempat, menyampaikan Dio mengalami kelainan genetis, sehingga hal tadi menciptakan susunan otot pada kedua kakinya nir ada, sampai seakan pada kaki hanya terdapat tulang saja (guillain-barre syndrome).

Hal tersebutlah yang menciptakan rumah sakit mengungkapkan bahwa kaki Dio nir bisa dioperasi agar mampu sembuh dan berjalan misalnya sedia kala.

Yuliati mengaku tidak pernah lelah buat selalu menghantar putra sulung berdasarkan dua bersaudara itu berangkat sekolah, menggendongnya kemudian membonceng menggunakan sepeda motor ke sekolah yang berjarak kurang lebih dua kilometer.

Sesampainya pada sekolah, wanita berasal Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak ini pula menggendong Dio lagi, buat di tempatkan dalam bangkunya.

Hal serupa yang dilakukan waktu pulangnya dan setiap harinya. Sampai saat ini anak saya ini masih berniat buat sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, makanya dengan ini aku berharap ada perhatian khusus menurut pemerintah supaya bisa masuk sekolah lagi, juga terdapat perlakukan spesifik untuknya, ungkapnya.

Berita Pendidikan Perjuangan Seorang Ibu Gendong Anaknya Perjuangan Seorang Ibu Gendong Anaknya Pergi-Pulang Sekolah

Author: 
author

Related Post

Leave a reply